Literasi Guru

CHATGPT, KERJAIN DONG!
Pernah nggak, baru juga guru bilang, “Hello everyone, hari ini kita tugas Bahasa Inggris ya” tiba-tiba tangan langsung bergerak membuka HP? Bukan untuk membuka kamus. Bukan juga untuk membaca materi. Tujuan utamanya cuma satu: membuka ChatGPT.
Lalu dengan penuh harapan, kita mengetik tiga kata sakti: “ChatGPT, kerjain dong!”
Beberapa detik kemudian, muncul jawaban yang rapi, lengkap, bahkan menggunakan kosakata bahasa Inggris yang terdengar seperti orang habis kuliah di Oxford. Kita pun tersenyum, menyalin jawaban, mengumpulkan tugas, lalu kembali menjalani hidup.
Tugas selesai. Hati tenang. Deadline aman.
Eitsss,,, tunggu dulu. Ada satu pertanyaan kecil yang nantinya akan membuat kita mendadak terdiam: kalau besok guru meminta kita menjelaskan jawaban tadi, apakah kita benar-benar bisa menjelaskannya?
Coba bayangkan situasi berikut.!
Guru memberikan soal: “She _ English every day.”
Pilihan jawaban: study, studies, atau studying.
Kita langsung membuka ChatGPT dan mendapatkan jawaban: studies.
Jawabannya benar. Tugas selesai. Namun, ketika guru bertanya, “Why do we use studies instead of study?” kita malah menjawab, “Karena kata ChatGPT begitu, Bu.”
BESTIE, MASA JAWABANNYA KATA CHATGPT? ????
Jangan-jangan, kita terlalu mengandalkan AI sehingga skip proses belajarnya.
Memang sih,,,, kita mendapatkan nilai penuh dari tugas tersebut.
Tapi apa gak sayang, karena proses tersebut kita justru tidak mendapatkan pembelajaran apa-apa?. Plot twist banget ya nggak...?
Dewasa ini kehadiran Artificial Intelligence (AI) termasuk ChatGPT membuat kegiatan belajar menjadi sangat praktis. Siswa bisa mendapatkan penjelasan materi, mencari ide, berlatih soal, hingga memahami kata-kata bahasa Inggris yang sebelumnya terasa asing.
Manfaat AI bagi siswa SMK juga luas, contohnya: Siswa jurusan TKJ bisa meminta penjelasan istilah teknologi dalam bahasa Inggris. Siswa jurusan Manajemen Perkantoran bisa berlatih memahami kosakata keuangan dan perkantoran. Siswa jurusan lain pun bisa meminta penjelasan sesuai dengan jurusannya masing-masing. Bahkan, AI bisa membantu siswa berlatih wawancara kerja dalam bahasa Inggris sebelum menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.
Sayangnya jika kita melihat fenomena pembelajaran dikelas saat ini AI cuma dijadikan alat untuk menyelamatkan tugas yang bisa dikerjaan kurang dari lima menit sehingga menyebabkan pola pikir belajar yang pragmatis.
Andai saja AI digunakan dengan tepat, pastinya AI bisa menjadi teman belajar yang membantu kita berkembang pesat.
Contohnya dalam pelajaran Bahasa Inggris, misalnya kita mungkin bisa mendapatkan paragraf yang sempurna dari AI. setelah itu kita bisa belajar memahami arti setiap kalimatnya. Kemuhadan teknologi ini membantu kita lebih cepat tahu mengapa suatu kalimat menggunakan simple past tense? dan akhirnya kita mampu membuat paragraf serupa tanpa bantuan AI.
sayangnya sampai saat ini kemampuan bahasa inggris kita masih belum berkembang pesat ya.., hal ini menunjukan ada bagian dari proses belajar kita yang terlewat. Yuk, kita perbaiki pola pikir belajarnya supaya lebih bijak.
Mulai sekarang kita coba menanamkan pola pikir bahwa AI seharusnya membantu kita belajar, bukan mengambil alih seluruh proses belajar kita. Hal ini akan terasa lebih adil, dimana kita melihat teknologi ini dari dua sisi. yaitu AI sebagai fasilitas teknologi belajar, dan bukan pengganti kemampuan otak dalam berfikir.
Sisi Positifnya AI Bisa Jadi Partner Belajar:
- Belajar lebih fleksibel. Kita bisa meminta penjelasan materi kapan pun dibutuhkan.
- Membantu memahami Bahasa Inggris. AI dapat menjelaskan grammar, arti kosakata, dan contoh penggunaannya.
- Melatih kreativitas. AI bisa membantu mencari ide untuk artikel, presentasi, dialog, atau proyek sekolah.
- Mendapatkan latihan tambahan. Kita bisa meminta soal sesuai tingkat kemampuan, kemudian mencoba menjawabnya sendiri.
- Meningkatkan kesiapan kerja. AI bisa membantu berlatih wawancara, membuat CV, dan mempelajari komunikasi profesional.
Sisi Negatif Yang Harus Kita Hindari Yaitu:
- Ketergantungan. Kita bisa terbiasa meminta jawaban tanpa mencoba mengerjakannya sendiri.
- Informasi keliru. AI dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat atau penjelasan yang kurang sesuai konteks.
- Kemampuan menurun karena kurang latihan. Jika selalu mengandalkan AI, kita kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan secara mandiri.
- Risiko plagiarisme. Menyalin hasil AI dan mengakuinya sebagai karya sendiri bisa melanggar aturan tugas atau integritas akademik.
- Privasi terancam. Memasukkan kata sandi, data pribadi, atau dokumen rahasia ke layanan AI bisa menimbulkan risiko keamanan.
Intinya, teknologi yang sama bisa memberikan manfaat atau justru merugikan, bergantung pada cara kita menggunakannya. AI dapat membuat belajar lebih mudah, tetapi kemudahan tidak selalu berarti kita benar-benar memahami sesuatu.
Bagaimana cara menggunakan AI dengan cerdas?
Kita tidak perlu berhenti menggunakan AI. Kita hanya perlu mengubah cara menggunakannya. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan saat belajar Bahasa Inggris maupun mengerjakan tugas lainnya.
1. Coba kerjakan sendiri terlebih dahulu.
Jangan langsung menyerahkan seluruh tugas kepada AI. Coba jawab terlebih dahulu sesuai kemampuan, meskipun hasilnya belum sempurna. Dari situ, kita bisa mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
2. Minta penjelasan, bukan hanya jawaban.
Daripada mengetik “Answer these questions,” cobalah meminta AI menjelaskan alasan di balik setiap jawaban. Dengan begitu, kita belajar memahami prosesnya.
3. Jadikan AI sebagai pemeriksa.
Setelah menulis paragraf Bahasa Inggris sendiri, minta AI membantu memeriksa grammar dan pilihan kata. Pelajari koreksinya, lalu putuskan perbaikan yang sesuai dengan maksud tulisan kita.
4. Jangan langsung percaya.
Periksa kembali informasi penting menggunakan buku pelajaran, sumber terpercaya, atau penjelasan guru. AI bisa salah, sehingga kemampuan berpikir kritis tetap dibutuhkan.
5. Tetap jujur dan jaga privasi.
Ikuti aturan sekolah tentang penggunaan AI. Jangan mengaku hasil buatan AI sebagai karya sendiri jika aturan tugas tidak mengizinkannya dan jangan memasukkan informasi pribadi atau rahasia ke dalam percakapan AI.
Dengan cara ini, AI bukan lagi sekadar mesin pembuat jawaban. AI menjadi alat untuk membantu kita memahami materi, mengembangkan ide, dan meningkatkan keterampilan.
Kesimpulan:
“AI bisa kasih kamu jawaban dalam hitungan detik. Tapi memahami jawaban itu tetap tanggung jawab kamu sendiri. Jangan cuma jago copy-paste, jadilah orang yang tahu apa yang sedang dia kerjakan.”
Penulis: Vica Hasna Syafiyyah, S.Pd*
*Guru Bahasa Inggris SMK Texmaco Purwasari
Editor: Gof*
**Hubin
English
中文 (Chinese)